Cerita Bokep Ngentot Mona

Cerita Bokep Ngentot Mona, Sudah seminggu sejak kejadian terkutuk itu, dan Mona sudah tidak berdaya apa-apa lagi untuk bisa menolak keinginan dari Mahmud yang ternyata sudah merencanakan semuanya dari jauh hari, apa yang harus dia lakukan dan terima. Awalnya dimulai dengan Mahmud “mengaudit” lemari baju Mona, ia mengambil semua celana dalam dan BH-nya, ia memilih baju-baju yang bisa digunakan, rata-rata baju yang disisakan adalah baju yang seksi, ketat atau tipis. Lalu ia mengambil atm dan kartu kreditnya, setiap hari bila berangkat kantor ia hanya diberikan uang secukupnya untuk makan dan ongkos, dan juga secara otomatis kini gadis itu tidak pernah menggunakan underwear lagi. Semua celana panjang miliknya telah diambil juga, sehingga kini ia hanya punya rok yang minimal pendeknya 10 cm di atas lutut. Mona sudah pasrah, ia sudah merasa tidak ada harganya lagi sebagai wanita, harga dirinya sudah dirampas dan dipermainkan oleh Mahmud. Banyak sudah permintaan dari Mahmud untuk melayani dirinya, baik permintaan yang “biasa-biasa” saja atau permintaan yang aneh-aneh, seperti dia harus striptise diiringi musik, atau harus memblowjob dengan posisi tangan terikat dan macam-macam lainnya.
Dengan kondisi tidak boleh menggunakan underwear, Mona benar-benar merasa risih sekali apalagi kalo harus berangkat kantor atau beraktifitas. Ia merasa dirinya telanjang dan kayanya semua mata laki-laki yang berpapasan seperti mengetahui bahwa dibalik bajunya ia tidak menggunakan BH. Juga sekarang bila ke kantor, ia diwajibkan menggunakan sepatu yang berhak tinggi, sehingga menonjolkan pantat bulatnya yang dibungkus oleh rok mininya yang ketat. Sering saat ia berdesakan dalam bis kota, ada tangan-tangan jahil yang mencoel pantatnya atau bahkan menggesek-gesek pantatnya saat berhimpitan, dan karena ia diperintah Mahmud untuk tidak marah atau menolak bila dia ada yang melecehkan seperti itu, jadi ia tidak berdaya orang-orang jahil itu menikmati kenyalnya pantat bulatnya itu. Juga dengan berjalan menggunakan high heels ini membuat payudara Mona bergoyang-goyang seiring langkahnya, seolah-olah menantang untuk diremas dan dibelai. Yang membuat Mona heran, dalam kondisi yang diperbudak oleh Mahmud ini malah kadang membuat dirinya terangsang, mungkin karena kondisi yang tidak berdaya ini yang menyebabkan libido-nya meningkat.
Bahkan kadang-kadang ia merasa bangga karena tubuhnya yang memang seksi ini benar-benar selalu mejadi pusat perhatian orang, walau sebenarnya itu merendahkan derajatnya sebagai wanita baik-baik. Kini sudah berjalan 3 minggu sejak kejadian itu, setiap malam ia harus melayani Mahmud dengan beberapa cara dan gaya. Dan kini Mahmud sudah siap untuk melanjutkan planning kotornya ke gadis malang itu. Ia sudah cukup puas dengan setiap malam bisa menikmati kehangatan dari Mona yang kini seperti boneka hidup. Jadi kini ia ingin ngerjain Mona dengan segala rencana yang sudah dia susun. Hari ini memulai hari dengan jantung berdebar dan rasa khawatir yang luar biasa, karena tadi malam Mahmud memberikan perintah yang bikin jantungnya serasa copot dan rasanya pengen mati aja. Perintahnya adalah ia tidak boleh mengatakan tidak/menolak permintaan dari semua laki-laki, apalagi yang berhubungan dengan hal-hal mesum/seks, apapun perintahnya ia harus turutin sampai laki-laki tersebut sudah mencicipi/menikmati dari apa yang diminta.
Mahmud juga mengatkan bahwa ia akan memasang mata-mata atau bahkan ia menyuruh teman-temannya sendiri untuk yang melakukan permintaan-permintaan itu, jadi Mona tidak bisa bohong bila ia berusaha menolak atau menghindar. “haduuuuhh…mampus deh gua sekarang, anjing bener tuh si Mahmud” kutuk Mona dalam hati, tapi ia tidak berdaya apa-apa untuk menolaknya. Jantungnya berdebar-debar juga membayangkan hal apa yang akan menimpanya nanti, walau selama ini ia dipaksa oleh Mahmud untuk melayaninya dengan segala cara. Sebenarnya secara tidak sadar Mona sudah menjadi wanita yang kaya pengalaman dalam hal seks dan tau bagaimana memberikan kepuasan pada lawan jenisnya. Dan ia juga tidak memungkiri, bahwa kini ia juga menikmati sensasi luar biasa dalam berhubungan seks, hanya karena lawan jenisnya saja yang seperti Mahmud yang kakek buruk rupa itu yang membuat dia kesal. Dari pagi sampai sore di kantor, Mona bersyukur bahwa tidak ada kejadian apapun yang membuat dia harus menuruti perintah orang dan kini sebelum pulang ia harus menelepon Mahmud untuk memberi laporan.
“hemmm…belum ada ya?”kata Mahmud setelah mendengar laporan Mona. “gapapa lah..kamu tenang aja, ga usah gugup karena baru pertama, biar kamu agak santai kamu sekarang pake baluran perangsang yang udah aku masukin ke tas kamu..” “Waduh..yang bener pak? Uuh tega banget sih bapak..” Mona kaget mendengar perintah itu. Ia memang diberikan botol kecil yang berisi cairan khusus, entah dimana Mahmud mendapatkan barang seperti itu. “Udaaah jangan banyak omong, cepet pake video call pas kamu pake di 2 puting kamu, lidah dan bibir kamu dan juga di memek kamu..cepet!!!” Mona mengeluh dalam hati, tapi ia tetap melakukan perintah itu. Di kamar mandi, ia mulai membalurkan cairan itu ke tempat-tempat yang disuruh, dan sebentar saja Mona merasakan putingnya mengeras dan menjadi sensitive sekali. Lalu ia mulai merasakan efek baluran itu juga pada memeknya yang langsung basah dan ada perasaan yang kuat, yaitu keinginan untuk agar memeknya menerima usapan liar dan terutama keinginan disodok sama kontol. Begitu juga dari ada keinginan kuat untuk mencicipi aroma kontol agar bisa dihisap-hisap dan diemut melalui bibir seksinya.
Mona kini benar-benar tak berdaya. Mahmud tertawa-tawa melihat reaksi Mona melalui video call-nya, melihat gadis itu mendesah dgn pandangan tidak focus “Hei Mona..!! kamu maunya apa?” teriak Mahmud secara tiba-tiba. “Mau kontol…eeh, ngga sa..salah..ga mau apa-apa..” tanpa sadar Mona menjawab dengan latahnya. “Ga mau dientot..?” “mauu…mau..,ngeh..ngga..ngga..” “hehehe..selamat pulang yaaah…” Mahmud terkekeh melihat hasil dia ngerjain Mona. Gadis itu mengeluh dalam hati, karena sepertinya akan sulit menghindar dari malapetaka pelecehan terhadap dirinya karena kondisi dirinya sekarang dan perintah dari Mahmud yang harus menjadi “yes girl”. Ditambah lagi kini ia tidak punya uang untuk pulang dan mau ga mau harus jalan kaki untuk pulang ke kost. Mona berjalan pulang dengan perasaan yang tidak karuan, sekuat tenaga ia menahan keinginan liar yang dibangkitkan secara tidak wajar pada bagian-bagian tubuhnya yang menjadi sangat sensitif yang sangat membutuhkan pelampiasan. Karena harus menahan nafsunya itu sering Mona menahan nafas dan mengerang pelan dengan wajah yang sayu dan horni, sehingga wajahnya yang cantik itu tampak menggairahkan, belum lagi tubuhnya yang seksi itu menggunakan blus kerja yang tidak mampu menyembunyikan tonjolan dada yang membusung dan rok mininya memperlihatkan paha yang putih mulus dan jenjang itu.
Sebisa mungkin gadis itu tidak memandang orang-orang yang berpapasan dengan jalan menunduk, karena setiap ia melihat laki-laki darahnya serasa berdesir dan membayangkan kontol dan kenikmatannya bila ia bisa mengulum-ngulum kontol itu atau digesek-gesekkan ke memeknya sambil buah dadanya diremas-remas, kembali Mona mendesah pelan membayangkan itu semua. Makin lama perasaan yang meledak-ledak itu makin kuat membutuhkan pelampiasan, tapi Mona terus menguatkan dirinya jangan sampai ia merendahkan martabatnya, ia terus berharap tidak ada laki-laki iseng yang bakal ngajak dia aneh-aneh yang dia ga bisa tolak. Kini Mona malah merasakan bahwa memeknya jadi agak basah karena gesekan 2 pahanya saat melangkah dan hal itu makin menyiksa dirinya yang makin horni, apalagi gesekan bajunya dengan putingnya yang mengeras itu juga makin membuat nafas Mona agak memburu dan bibirnya yang seksi seperti menahan nyeri. Mona terus berjalan dan berusaha untuk secepat mungkin melangkah, tapi karena gangguan rasa horninya kadang-kadang ia tampak sedikit limbung dan memelankan langkahnya karena menahan nafsunya. Sejauh ini ia masih aman dari gangguan laki-laki meskipun dia tau setiap laki-laki yang berpapasan dengan liar menatap dirinya dan tubuhnya yang aduhai, ia masih berharap walau harapannya tipis karena ia juga diberikan rute pulang oleh Mahmud yang sedikit rawan untuk seorang wanita seperti dirinya pulang jalan kaki sendirian. Dan apa yang ditakutkan gadis itu benar-benar terjadi.
Dalam rute yang diberikan, Mona harus memotong jalan gang di belakang pasar daging dan pada saat ia masuk gang tsb di kanan kiri-nya merupakan kios-kios daging yang sudah sepi karena pasar sudah tutup. Saat baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar suara beberapa laki-laki berbicara diselingi dengan suara tertawa. Sepertinya mereka sedang bermain sesuatu. Dugaan Mona tidak salah, karena saat itu memang ada beberapa supir angkot yang sedang melepas lelah setelah seharian narik dan menghabiskan waktu main judi sambil minum minuman keras, dan saat ini mereka sudah mulai dipengaruhi oleh alcohol. “Siaaall…!! Waah lo pada pasti ada yang curang niih…abis duit gua..” seloroh Tono sambil membanting kartunya, hari ini dia memang lagi sial karena kalah melulu. “Bilang apa nih ntar ama bini gua?” katanya sambil menenggak beberapa teguk bir-nya. Teman-temannya hanya tertawa-tawa mengejek Tono dan yang ditanggapin sambil terkekeh-kekeh dan dia berdiri karena mau kencing. Saat ia berdiri itu ia melihat Mona yang sedang berjalan dengan sedikit terhuyung, saat ia menajamkan penglihatannya ia terbelalak melihat kecantikan dan keseksian gadis yang akan lewat di jalan sepi itu.
“Woii..woi..liat tuh, ada cewe cakep banget..cepetaan, keburu lewat loh..” serunya ke teman-temanya. “Ahhh..palingan si Surni yang di belakang itu kan? Ga jauh deh lo Ton..”seloroh temennya sambil tetep maen kartu. “Eeeehh..beneraaann.., ya udah gua aja yang mau ngeliat lebih deket..” kata Tono sambil berjalan dengan arah memotong arah perjalanan cewe nafsuin itu. Teman-temannya tetep cuek dan membereskan kartu dan botol-botol lalu meninggalkan tempat itu. Mona terus berjalan sambil tetap menahan rasa horni-nya, dan sebentar saja dia melihat ada laki-laki yaitu si Tono sedang bersender di salah satu kios kosong sambil memandanginya. Mona berdoa agar laki-laki itu ngga iseng dan ia terus jalan sambil menunduk. Saat melihat lebih dekat, Tono makin takjub melihat Mona terutama keindahan badannya. Ia menelan ludah melihat payudara gadis itu yang bulat dan montok dan ia melotot karena secara samar ia seperti melihat tonjolan puting dari kain blusnya yang memang agak ketat. Dan saat ia melihat pahanya kembali ia menelan ludah melihat batang paha yang putih bersih dan jenjang itu.
Karena bengong itu dan seperti orang linglung Tono tidak sengaja melepas botol minumannya sehingga jatuh dan pecah. “Praanngg…!!” “Eh kontol…kontol enak…!!” Mona tanpa sadar teriak karena latahnya dan pikirannya yang sedang kacau. Mendengar latah itu, Tono tertawa dan jadi lebih berani ditambah lagi ia juga sudah agak mabok.. “Hehehe…emang enak ya kontol ya mba..?” pancingnya “hmmmm…?” Mona mengutuk dirinya kenapa ia menjawab dengan gaya yang seksi dengan pandangan mata sayu dan suara yang serak-serak basah, dan ia memandang ke arah Tono yang merupakan laki-laki berkulit hitam dengan ukuran tubuh sedang, berusia sekitar 30-an dengan wajah yang keras karena kehidupan. “A..apa bang?” tanya Mona lagi yang tidak sadar menjilat bibirnya yang ranum itu. “Ngga…demen sama kontol emangnya…?” blingsatan Tono melihat bibir seksi yang basah dan sprt menyeringai menantang itu. Mona menelan ludah beberapa kali mendengar pertanyaan itu, dan dengan sedikit gemetar ia menjawab, “De.. demen banget bang..” pikirannya udah menerawang ga jelas karena rasa takut dan desakan birahinya yang meningkat terus.
Tubuhnya serasa lemas dan tak bertenaga sehingga 1 tangannya bersandar pada meja kayu. Ia merasa memeknya makin basah dan serasa desiran-desiran pada perutnya yang menjalar ke bagian selangkangnnya makin kencang. Tono lebih berani lagi melihat respon gadis itu, ia merasa celana bagian selangkanganya jadi agak sesak “Enaknya emang gimana sih?” sambil ia membenarkan arah kontolnya. “Hmmmm….oouh..enaknya diciumin, dijilat…nggg..sama diisepin bang..” jawab Mona sambil matanya tanpa sadar melihat ke arah kontol Tono karena gerakan tangannya, dan ia makin sesak nafasnya. Tono benar-benar ngga ngira akan ada jawaban seperti itu, jantungnya berdetak kencang karena ia jadi gugup juga ngeliat ada gadis secantik dan seseksi Mona berada di tempat seperti ini dan bertingkah yang di luar dugaan itu, ia lalu ngajak Mona untuk masuk ke tempat lebih agak ke dalam dan tertutup dari luar dan gadis itu juga tidak menolak. “Rejeki banget nih…” pikir Tono dalam hati. Ia sekarang tidak peduli lagi asal usul gadis ”maut” ini, yang penting bisa dipakai.
“teruss..? selain itu enaknya apa lagi..?” tanya Tono “uuuh..nanyanya gitu?” kesal juga Mona, tapi ia sudah pasrah karena tau ia tidak akan lepas sekarang “yaaah…paling enak kalo dimasukin lah bang..” “wahahaha…tau aja kamu.., kamu..ehem..kayanya ga pake bh yah?” tanya Tono, ia sudah benar-benar ngaceng sekarang, ia kini lebih berani lagi, lalu ia menarik tangan Mona agar lebih dekat berhadap-hadapan sampai ia bisa mencium aroma wangi dari gadis itu “Ngga bang..” “Haah..bener? coba gua cek..” sambil ngomong gitu jari kedua tangan Tono ke arah puncak bukit payudara Mona dan saat dijamah ia segera merasakan puting yang mengeras tanpa ditutupi BH, ia melihat tubuh Mona menegang dan keluar rintihan lirih dari bibir seksinya, dan tubuhnya menggeliat saat ia memuntir-muntirnya dan makin cepat rintihan yang terdengar. “enak yaaaa…” “Ngeh..ouuh..ss..stop bang…” Mona masih berusaha menolak, tapi ia segera ingat pesan Mahmud. “Nggeehh..iyaa…enaak bgt baaang…oouuhh…aww..kok dicubit..?” ralatnya dan juga karena birahinya sudah memuncak ia jadi berlaku seperti wanita murahan.
Kesadarannya yang sudah tipis itu, merasa terhina sekali karena ia harus merelakan putingnya dipuntir-puntir sama laki-laki asing dan berkasta rendah. Melihat erangan dan geliat tubuh Mona makin liar itu, Tono tau bahwa gadis di depannya ini sedang dalam keadaan horni banget. Hal ini makin membuat dirinya senang akan kenikmatan yang akan didapat, ia tidak peduli lagi kenapa gadis ini bisa horni kaya gini. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Mona, dan segera ia merasakan hembusan nafas Mona yang hangat dan cepat menerpa dan dengan cepat bibirnya menempel ke bibir gadis itu yang terasa basah dan hangat. Kelembutan bibir Mona makin membuat Tono bernafsu. Ia melumat dan mengulum-ngulum dengan liar, terdengar suara mengerang dari Mona yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah, sebenarnya hampir pingsan ia mencium aroma minuman keras dan mulut apek Tono. Meski masih berupaya menolak walau hanya setengah hati, tapi sebenarnya ia merasa sangat menikmati lumatan kasar dari Tono itu, tubuhnya merespon dengan sendirinya akibat birahinya yang sudah mengalahkan logikanya.
Sambil mencium, kini bukan saja memuntir putingnya tapi mulai meremas-remas dengan liar gumpalan daging kenyal yang kencang nan padat itu. Gadis itu makin merintih-rintih dalam ciuman Tono yang berpindah ke leher Mona yang harum memabukkan. “Ouucchh..” Mona menjerit lirih saat lehernya dicupang oleh Tono dan ia makin menggelinjang saat Tono mendesah dan menggumam tak jelas di kupingnya. Hembusan nafas Tono dan jilatan lidahnya membuat Mona blingsatan, tanpa sadar tangannya mengarah ke memeknya dan langsung mengusapi liang memeknya yang sudah becek itu. “Ouuucchh..aaannngggghhhhhhhhhhhhhhh….” sebentar saja Mona mencapai klimaksnya, tubuhnya menggetar hebat dan dadanya bergerak naik turun dalam remasan-remasan Tono. “Hohohoho..ga pake cd juga kamu ya…emang udah siap dintetot kamu kayanya..” ujar Tono setelah melirik ke bawah dan melihat tangan Mona yang menggeseki selangkangannya sendiri. Gadis itu merasa wajahnya panas karena malu tapi ia tak berdaya karena nafsunya sendiri. Kini dalam otaknya hanya pengen ada kontol yang bisa ia nikmati lewat mulutnya atau lewat memeknya, ia sudah tidak perduli lagi.
Tapi ia tetap berusaha menjaga gengsinya walau ia sendiri juga tidak tau gengsi apa lagi yang bisa ia pertahankan. Setelah melancarkan remasan dan ciumannya selama 15 menit, Tono melonggarkan pelukannya ke Mona yang kini bersandar dengan keadaan yang menggiurkan. Rambutnya terlihat sedikit awut-awutan yang malah menambah kecantikan wajahnya yang diselimuti nafsu, kancing bajunya terbuka sehingga terlihat belahan dada montok yang menyembul dibalik bajunya yang acak-acakan. Gerakan dada montok itu naik turun nafsuin karena nafas Mona yang terengah-engah karena perbuatan Tono dan terutama karena sehabis orgasme tadi. Rok yang sudah mini itu terangkat ke atas memperlihatkan sedikit pangkal pahanya yang malah bikin ser-seran bagi Tono. Kulit paha yang putih itu terlihat sangat mulus dan menaikkan gairah. “Lo bilang tadi suka kontol kan?” tanya Tono, sambil mulai membuka resleting celananya dan sebentar kemudian ia mengeluarkan kontolnya yang sudah ngaceng daritadi. Ukurannya tidak terlalu panjang tapi diameternya cukup besar.
Melihat batangan lelaki itu, Mona tidak mampu mengalihkan pandangannya dan menatap kontol itu dengan penuh nafsu dan beberapa kali menelan ludah. Yang ada di otaknya cuma pengen menikmati kontol itu. Lututnya serasa lemas dan gemetar menahan nafsunya untuk “menerkam” kontol Tono. Melihat tatapan Mona yang ngga lepas dr kontolnya dan wajah cantiknya yang seperti singa betina kelaparan melihat daging kijang nan empuk itu, Tono tersenyum senang. “Kamu mau kan nikmatin kontol gua?” tanyanya yang dijawab dengan anggukan cepat dan erangan Mona “Kalo gitu, kamu buka baju kamu sekarang” “Oooh…” Mona terdiam sesaat, tapi dengan jari gemetar ia mulai melepas kancing bajunya satu per satu. Tono Tono menelan ludah melihat gerakan Mona yang perlahan itu mulai memperlihatkan sedikit demi sedikit bagian dalam tubuhnya, dimulai dengan terlihatnya payudara yang berbentuk bulat sempurna dan berukuran di atas rata-rata itu, lalu terlihat perut yang langsing dan pinggang yang ramping tanpa lemak. Ditambah lagi kulitnya membungkus tubuh sintal itu begitu sempurna dan halus.
Kini Mona sudah berdiri dengan tubuh bagian atas telanjang, yang membuat kontol Tono terasa sakit karena saking kencangnya. “Cepat..isepin kontol gua..yang enak!!” “Ouuuhh…” erang Mona, ia berlutut dan kini kontol ngaceng itu sudah berada di depan wajahnya. Sambil menjilati bibirnya yang ranum ia meraih dengan lembut batang kemaluan itu, lalu ia mengecup pelan kepala kontol yang bulat dan beraroma khas. Kecupan lembut itu dilanjuntukan dengan jilatan-jilatan yang menyapu seluruh bagiannya. Jilatan itu diiringi dengan erangan-erangan penuh nafsu yang keluar dari mulutnya dan sebentar kemudian gadis itu memasukkan kontol itu ke rongga mulutnya. “Mmmmmmmmmmghh..” Mona menikmati batang kelaki-lakian Tono yang memenuhi mulutnya, bergerak sliding keluar dan masuk dengan lancar dan cepat yang membuat laki-laki beruntung itu merem melek keenakan, dari atas ia melihat bagaimana bibir Mona yang merah itu menelan kontolnya dan lidahnya yang seperti ular itu menjilatinya dengan penuh nafsu. Tono beberapa kali menggelinjang saat lidah gadis itu menyapu urat besar di bawah alat kemaluannya, dan Mona yang sudah ahli itu memainkannya dengan makin cepat dan liar. Sekejap Mona sadar bahwa ia dengan nafsunya memberi blowjob untuk laki-laki seperti Tono, tapi kesadaran itu langsung lenyap lagi akan kebutuhannya, nafsu yang menguasai dan rasa “laparnya” terhadap kontol laki-laki, laki-laki manapun.
Mona terus menyepong kontol itu dengan nikmat, bibir merahnya melingkar dengan ligat dan lidahnya yang basah dan panas itu terus menjilati dengan cepat dan ahli, gadis itu terus menghisap makin dalam dan dan kuat, akhirnya.. “Uuuugghhh…mantap bangeeet…jago banget lo ngisepnya” teriak Tono, spermanya membanjiri rongga mulut Mona yang langsung ditelannya dengan nikmat dan diteruskan menjilati batang Tono yang tetap perkasa itu. “Oke sayang…saatnya gua cicipin memek lo yah..” ia menarik wajah Mona ke belakang dan ia mencium bibir sexy itu sekali lagi. Lalu tangannya merayap ke arah bawah perut Mona dan menyusup langsung ke liang memek yang sudah basah itu. Jari-jari ahli itu langsung menemukan klitoris Mona yang sudah terangsang banget dan mulai memainkan jarinya dengan cepat. Mona langsung menggelinjang hebat. “Uuuuuuuugggggmmmmmmmmmmm” Mona menjerit dalam ciuman Tono. Kedua bola mata Mona yang indah itu terbelalak tak percaya, kenapa hal ini bisa terjadi. Yang awalnya dia seorang gadis cantik nan seksi yang hanya menjadi impian setiap laki-laki, kini tubuhnya berada dalam kekuasaan seseorang seperti Tono yang saat ini sedang leluasa menikmati kenikmatan surga dunia.
“Uuuuugghhmmmm..” kembali ia mengerang merasakan payudaranya mengencang dan timbul rasa geli dan makin panas hawa nafsunya. Liang memeknya makin banyak mengeluarkan cairan pelumas yang memudahkan gerakan jari-jari Tono. Nafasnya makin memburu melalui hidungnya dan matanya yang sayu itu bergerak liar saat ia makin dekat dengan puncak kenikmatan yang berusaha dia tahan. Lalu ia menyerah dan orgasme yang luar biasa terjadi dengan liar. “Aaaaaaaaggghhhhhhhhhh” “Heheheheh…enak kan?” ujar Tono sambil melihat dengan senang Mona yang kini berdiri dengan goyah di atas sepatu stiletto-nya berusaha menenangkan pikiran dan gejolak dirinya setelah klimaks tadi. Ia pasrah saja saat Tono menurunkan rok mininya melalui paha jenjangnya ke bawah dan secara otomatis ia melangkahkan kakinya keluar dari roknya tersebut. Kini tubuhnya sudah polos telanjang hanya menggunakan sepatu hak tingginya saja. “Emang seksi banget lo ya..” ujar Tono, lalu ia menggerayangi setiap lekuk liku tubuh montok itu, pantatnya yang bulat dan kencang itu menjadi sasaran remasan dan cubitan tangannya.
Mona hanya menggeliat-geliat lemah dan tampak menikmati setiap usapan pada tubuhnya. “Sekarang gua mau nyicipin memek lo ya neng..” kata Tono, lalu ia mengangkat tubuh Mona ke atas meja kayu dan mengangkangkan kedua batang paha Mona sehingga kini liang memek gadis itu terbuka menantang sejajar dengan kontol Tono yang sudah siap “menggempur”. Mona menelan ludah dan tanpa sadar lidahnya menjilati bibir merahnya sendiri saat melihat Tono menuntun kontolnya ke arah memeknya yang panas dan basah itu. Ia tersentak saat “helm” kontol itu menyentuh bibir memeknya dan yang segera dibenamkan masuk. Mata Mona membelalak dan punggungnya menegang ke belakang, tubuhnya serasa dialiri listrik tingkat tinggi, kedua tangannya meremas kuat pinggiran meja menahan serangan liar penuh nafsu itu. “Uuuuuuuuggghhhhhhh….!” Gadis itu melenguh-lenguh seirama dengan pompaan Tono yang maju mundur dan makin lama makin cepat, gesekan batang keras nan hangat itu dengan dinding memeknya membuat dirinya belingsatan. Ditambah lagi remasan-remasan tangan Tono yang kasar pada payudaranya menimbulkan sensasi yang luar biasa.
“Ooouuuff…aak..akhu mau keluaaaaarr…nnggeeeehhh..” diakhiri erangan panjang ledakan orgasme menyerang sekujur tubuh Mona yang menggelinjang “Aaaaiiiiiiiiiieeeeeeeee….” Otot-otot memek Mona bergetar saat klimaks mebuat Tono melem melek merasakan sekujur batang kontolnya seperti dipijit-pijit, menimbulkan kenikmatan tiada tara. Tono terus memompa kontolnya keluar masuk dan makin cepat. 1 menit kemudian, Mona mencapai puncaknya lagi “Ooouuuuuuuufffffffnngggghhh…” “Terus bang…oouuhh….yang keras, yang ce…cepeth baangg..hhhhnnnnnnggg…” Mona yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh nafsunya, meracau tak karuan diselingi desahan-desahannya yang menikmati setiap sodokan kontol Tono yang perkasa. Gadis itu mengempit pinggang Tono dengan kedua pahanya yang makin membuat Tono keenakan karena lubang memek gadis cantik itu serasa makin sempit dan memijit-mijit kemaluannya. Keperkasaan Tono benar-benar membuat Mona makin liar dan blingsatan, ia sampai mencapai klimaksnya sebanyak 4 kali dan setiap klimaks itu membuat dirinya makin lepas kontrol menikmati permainan panas itu, ia tidak peduli lagi sekarang dengan memeluk tubuh tegap Tono dan menciumi leher dan sesekali melumati bibir laki-laki beruntung itu. Tono juga tidak ketinggalan, sambil terus memompa kontolnya maju mundur tanpa kenal lelah, tangannya tak berhenti bergerilya ke sekujur tubuh seksi Mona, kesintalan tubuh gadis itu sungguh menggairahkan dan daging kenyal di dada serasa hangat dan lembut dalam setiap remasannya. Sesaat kemudian, Tono mempercepat sodokannnya dan wajahnya sedikit menegang, sambil memegang erat pinggul bulat montok itu, dengan sodokan keras akhirnya
“Uuuuuuuuuuuggggghhhhhh…..” “Aaaaiiiiiiiieeeehhhhh….” Mona juga mencapai klimaksnya yang meledak kuat sekali berbarengan dengan lawan mainnya, ia merasakan “lahar” panas memenuhi liang kemaluan wanitanya. Tubuh sexynya mengejang menikmati setiap detik sensasi luar biasa yang ditimbulkan karena permainan seks mereka. Setelah beberapa saat menikmati setiap detik orgasme yang mereka alami, sambil meringis keenakan Tono mencabut kontolnya dari memek Mona lalu ia terduduk lemas karena keenakan, ia memandangi tubuh montok Mona yang telanjang di depannya dan ia menghela napas memikirkan keberuntungan dirinya dapat menikmati tubuh dari gadis secantik itu, karena kecapean dan pengaruh alkohol Tono ketiduran sambil tersenyum menghiasi bibirnya. Setelah terlampiaskan nafsunya yang dibangkitkan secara tidak wajar, kini Mona merasa tubuhnya lemas juga dan dengan perlahan ia mulai mengenakan kembali bajunya dan rok mininya. Lalu dengan langkah limbung ia meninggalkan tempat itu. Ia memandang ke Tono yang tertidur dan membayangkan kejadian barusan, dimana ia menikmati permainan seks dengan laki-laki seperti Tono yang dalam keadaan biasa tidak mungkin ia akan melakukannya. Dengan menghela nafas ia terus berjalan berusaha menghilangkan ingatannya mengenai dirinya yang dinikmati oleh laki-laki asing itu.
author